CONTACT US

 
 +62-21-6386-1505  amc@advancemedicorp.com Facebook Twitter RSS GooglePlus Youtube

Kompleksnya Fistula Ani

 Posted by Marketing Media AMC
 14 July 2016 22:53
 Artikel
Jika ada penyakit yang berulang kali dioperasi  tapi kambuh berulangkali juga, mungkin itu adalah fistula. Hingga kini, ada berbagai cara pembedahan yang dikembang- kan  untuk mengatasi fistula ani,  tetapi tidak  ada yang berhasil 100%. Bahkan, banyak di  antaranya yang terpaksa harus kembali dengan keluhan yang sama atau lebih berat.

Fistula ani
Secara etimologi, kata  fistula berasal dari  istilah Yunani yang berarti “pipa” atau “saluran”. Istilah ini  kemudian diadaptasi ke dunia kedokteran untuk menyatakan saluran   yang menghubungkan dua organ atau pembuluh yang pada keadaan normal tidak  terhubung. Salah satu fistula yang paling akrab dengan para ahli  bedah adalah fistula ani.

Fistula ani  adalah saluran abnormal yang menghubungkan antara saluran anus dengan kulit  di daerah perianal. Sebagian besar kasus fistula terbentuk melalui proses infeksi kriptoglandular, yang terjadi akibat tersumbatnya kripta anus oleh kotoran atau feses yang padat atau keras. Akibatnya, kelenjar di  daerah anus menjadi terinfeksi dan membentuk abses di ruang antar sfingter, dan akhirnya pecah dan membentuk fistula. Masalahnya, saluran fistula yang terbentuk bisa tidak  hanya satu, melainkan  beberapa saluran sekaligus. 

Meski  demikian, teori ini rupanya tidak berlaku pada fistula yang disebabkan oleh  penyakit Crohn, tuberkulosis, limfogranuloma venereal, dan aktino- mikosis.  Karena patofisiologinya berbeda, maka strategi pengobatannya juga  berbeda.  Pada  fistula yang disebabkan oleh aktinomikosis, misal- nya, untuk mendapatkan  hasil yang baik,   pasien harus  dioperasi dan diberikan terapi antibiotik yang sesuai. Sedangkan pada yang berhubungan dengan  penyakit Crohn, terapinya diikuti  juga dengan terapi imun.

Parks, Gordon, dan Hardcastel mem- bagi  fistula ani ke dalam empat kelompok. Klasifikasi yang dikenal denga klasifikasi Park ini meliputi:
• Intersfingterik, yaitu fistula yang disebabkan oleh abses perianal. Fistula ini  dimulai dari rongga di antara otot interna dan eksterna dan berakhir sangat dekat dengan saluran keluar anus, yaitu di  kulit perianal. Jenis  fistula ini  adalah jenis yang paling sering ditemukan, yaitu hampir 70% dari kasus fistula.
• Transsfingterik, yaitu fistula yang terbentuk akibat abses di  daerah fossa iskiorektal. Salurannya dimulai dari   rongga di  antara muskulus interna dan eksterna atau di fossa iskiorektal, saluran  ini  kemudian menyeberangi  sfingter eksterna, dan berakhir di dua hingga tiga inchi di luar  ujung anus. Fistula ini dapat berbentuk seperti huruf U, dengan bukaan di kedua sisi  anus, disebut fistula sepatu kuda. Jenis fistula ini merupakan 25% dari  seluruh kasus fistula ani.
• Suprasfingterik, yaitu fistula yang berasal dari  abses supralevator. Salurannya dimulai dari   ujung dalam linea dentata  masuk ke ruang antara otot sfingter interna dan eksterna mengelilingi seluruh sfingter dan berbelok ke atas.muskulus puborektalis dan levator ani,  dan berakhir dua hingga tiga inchi di luar ujung anus. Insidensnya adalah 5% dari seluruh kasus fistula.
• Ekstrasfingterik, dapat disebabkan oleh luka tembus di rektum dengan saluran yang melalui otot levator ani, luka tembus diperineum, akibat penyakit Crohn atau kanker serta terapinya, atau akibat penyakit inflamasi panggul. Salurannya bermula dari rektum atau kolon sigmoid, dan memanjang ke bawah, menembus  otot levator ani dan berakhir di kulit di sekitar anus.

Karena fistula merupakan komplikasi abses anorektal lebih sering ditemukan pada pria dibanding wanita. Sekitar 30-50% pasien dengan abses anorektal akan mengalami fistula ani, dan sekitar 80%  kasus fistula disebabkan  oleh infeksi anorektal.
Fistula juga dapat  dibagi menjadi jenis simpleks dan kompleks. Fistula disebut simpleks jika merupakan fistula transsfingterik dan intersfingterik yang melibatkan lebih dari  30% sfingter ani eksterna. Sedangkan fistula kompleks adalah fistula yang saluran utamanya merupakan fistula transsfingterik letak tinggi (dengan atau tanpa saluran buntu), atau fistula suprasfingterik dan ekstrasfingterik. Selain itu, fistula juga disebut kompleks jika memiliki bentuk seperti ladam kuda, memiliki beberapa saluran, memiliki saluran yang terletak di  anterior pada wanita, dan fistula yang disebabkan oleh inflammatory bowel syndrome, radiasi, keganasan, inkontinensia, atau diare kronik.



Mentoknya pengobatan
Sejak dahulu, fistula ani adalah penyakit yang cukup umum dijumpai. Diskusi mengenai fistula ani dapat kita  lihat pada literatur kedokteran yang berasal dari  tahun 400  SM.  Meski demikian, fistula tetap menjadi topik yang hangat hingga sekarang dan masih menjadi k asus  yang menantang bagi para dokter di seluruh dunia.

Pasien dengan fistula dapat mengeluh- kan  keluarnya cairan perianal yang berbau busuk, gatal, abses berulang, demam, atau nyeri di daerah perianal akibat tersumbatnya  saluran. Nyeri dapat timbul baik saat duduk, bergerak, buang air besar, bahkan saat batuk sekalipun. Nyeri dapat ringan hingga berat dan dirasakan terus menerus sepanjang  hari. Tak  pelak lagi,  hal  ini tentu dapat menurunkan kualitas hidup dan produktivitas penderitanya, yang sebagian besar adalah orang dengan usia produktif.

Meski nyeri dapat  berkurang atau hilang dengan sendirinnya jika terbentuk saluran keluar baru tetapi ini berarti kompleksitas fistula semakin bertambah. Rasa tidak nyaman juga tetap ada dan saluran keluar yang menimbulkan masalah kebersihan. Jika tidak diobati, fistula yang terinfeksi berulang kali  dapat menimbulkan masalah sistemik seperti sepsis hingga mencetuskan terjadinya keganasan. Pengobatan dengan obat-obatan tidak dapat membantu menutup fistula. Pengobatan dengan herbal telah diperkenalkan oleh ahli  pengobatan India di zaman dahulu, yaitu oleh Sushruta. Meski pengobatan ini masih diwariskan selama  ber tahun-tahun, tetapi efektivitasnya belum dapat dibuktikan dan tidak menutup kemungkinan fistula kambuh kembali.

Hingga saat ini, pembedahan adalah modalitas terapi yang menjadi pilihan saat menghadapi kasus fistula. Namun, bukan berarti  setelah dioperasi fistula tidak  lagi dapat menimbulkan komplikasi. Pembedahan dapat menimbulkan masalah baru seperti retensi urine, perdarahan, pembentukan abses,  tidak   dapat menahan cairan dan flatus, dan kambuhnya fistula. (dr. Eva Melinda)