CONTACT US

 
 +62-21-6386-1505  amc@advancemedicorp.com Facebook Twitter RSS GooglePlus Youtube

Bedah Terbuka dan Minimally invasive surgery

 Posted by Marketing Media AMC
 15 July 2016 00:10
 Artikel
Apa terapi fistula? Jawabannya mudah saja, yaitu pembedahan. Namun, pelaksanaannya tidak
semudah  mengucapkannya. Bukan karena teknik pembedahan yang rumit, melainkan karena ada banyak hal yang perlu dipertimbangkan sebelum memutuskan pembedahan dan jenis pembedahan yang dapat dilakukan.

Fistula ani adalah salah satu pemegang rekor penyakit bedah  yang sering mengalami kekambuhan. Tidak  hanya itu, pembedahan pada kasus ini berisiko menyebabkan terjadinya inkontinensia fekal  akibat kerusakan pada otot-otot sfingter. Akibatnya, pasien dihadapkan pada buah simalak ama. Dilakuk an pembedahan  berisiko inkontinensia, tidak   dibedah  fistula menjadi-jadi. Lebih  miris lagi  jika  sudah dibedah dan terjadi inkontinensia fekal, ternyata fistula masih kambuh juga.

Kunci  dari   suksesnya pembedahan fistula adalah  diketahuinya internal opening  fistula. Dengan demikian, fistula dapat  diberantas  dari   ujung hingga ke pangkal. Untuk mencarinya, tidak jarang ahli bedah harus membuka fistula sehingga luka  yang dihasilkan luas dan dalam. Akibatnya, terdapat luka sayatan besar di  bagian bokong atau perianal yang menimbulkan nyeri dan ketidaknyamanan. Luka  ini  juga yang menyebabkan terjadinya inkontinensia fekal. Selain itu, sebelum dilakukan pembedahan terbuk a  pada fistula, juga diperlukan pengklasifikasian fistula untuk dapat menentukan teknik pembedahan yang dipilih dan dapat mengetahui lokasi dan cabang fistula.

Pembedahan  fistula ani   idealnya memiliki  angka kekambuhan yang rendah, gangguan inkontinesia minimal, dan berhasil meningkatkan kualitas hidup pasien. Karena itu, ada beberapa teknik bedah yang dikembangkan untuk menyingkirkan fistula ani,  tetapi tetap dapat mempertahankan fungsi sfingter. Di antaranya penggunaan lem, sumbat fistula ani, prosedur LIFT, dan terapi sel.

Lem fibrin awalnya merupakan salah satu modalitas terapi fistula yang cukup menjanjikan.   Namun, belakangan diketahui bahwa hasilnya mengecewakan. Lem tersebut memang mudah diaplik asikan,   tetapi tidak ideal karena  konsistensinya yang cair. Walhasil, bekuan lem  tidak dapat menutup saluran dengan sempurna dan sulit dimanipulasi di dalam saluran. Sebagai pengganti fibrin, hadir sumbat fistula yang digadang-gadang menjadi kuda hitamnya terapi fistula. Memang hasilnya cukup memuaskan,  tetapi biaya yang mahal menjadi kendala bagi pasien. Sumbat  juga kurang disukai karena dokter harus tahu persis lokasi internal dan external opeing fistula ter sebut. Dengan demikian, diperlukan pemeriksaan  pencitraan yang  tentu  juga cukup menguras kantong. Penggunaan sumbat juga terbatas pada kasus-kasus tertentu.

Setelah sumbat, ada prosedur LIFT (ligation of  inter sphincteric fistula tract). LIFT menjanjikan fungsi sfingter tetap terjaga, cedera jaringan yang lebih sedikit, waktu penyembuhan yang  lebih singk at,  dan m emang cukup mudah dilakukan. Masalahnya, prosedur ini juga terbatas hanya untuk fistula transfingterik. Teknik  ini  sulit dilakukan untuk fistula transfingterik letak  tinggi atau suprasfingterik.

Munculnya bedah invasif  minimal
Saat ini,  hampir semua jenis pembedahan dapat dilakukan secara invasif minimal. Tidak terkecuali fistula ani. Untuk menjawab  tantangan  para ahli bedah saat menghadapi kasus fistula ani, muncul teknik bedah invasif minimal baru yang disebut VAAFT (Video-Assisted Anal FistulaTreatment).



Melalui cara ini, kita dapat melihat secara langsung internal dan external opening fistula, bahkan menelusuri bagian dalam fistula dengan  mata kepala kita sendiri melalui gambar yang ditampilkan oleh serat optik. Dengan demikian, fistula yang bercabang- cabang dan yang buntu sekalipun dapat dilacak dengan mudah dan tidak mungkin ketinggalan untuk diobati. Hal  ini juga dapat diketahui secara langsung pada saat operasi, sehingga pasien tidak perlu mengeluarkan biaya untuk melakukan pemeriksaan  yang tidak  nyaman.

Teknik invasif minimal terkenal karena luka  sayat operasi yang kecil. Dengan demikian, waktu penyembuhan  dan rasa nyeri pasca operasi tentu juga lebih  singkat  dan ringan. Dalam pembedahan  fistula invasif minimal, sayatan bahkan tidak diperlukan, karena fistuloskop dapat langsung disisipkan melalui external opening fistula itu  sendiri.  Bahkan, teknik invasif minimal ini memiliki  satu keuntungan yang jauh lebih penting lagi. Karena tidak memerlukan sayatan, maka risiko  terjadinya kerusakan sfingter dan inkontinensia fekal  jauh berkurang. Dengan demikian, pasien tidak  menderita malu seumur hidup dan dapat tetap produktif.

Seperti yang disebutkan  di atas, pengobatan  fistula ani  dapat disebut ideal jika memiliki komplikasi gangguan inkontinesia yang minimal, berhasil meningkatkan kualitas hidup pasien, dan memiliki  angka  kek ambuhan yang rendah. Lalu bagaimana dengan angka  kek ambuhan pada mereka yang diterapi dengan teknik invasif minimal? Ternyata, teknik Jbaru ini terbukti berhasil guna dalam menekan angka kekambuhan fistula.

Berdasarkan studi yang dilakukan oleh P. Meinero terhadap 136 pasien yang mendapat terapi VAAFT, 87,1% pasien mengalami kesembuhan dalam waktu satu tahun. Dengan teknik  ini, internal openign dapat ditemukan pada 82,6% k asus. Bahk an, fistuloskopi yang dilakukan mampu  mengidentifikasi saluran sekunder atau abses kronik penyebab  fistula. Dengan demikian, fistula dan  kroni-kroninya dapat diberantas hingga tuntas.(dr. Eva Melinda)